kAta-KatA biJak u/k Cinta
Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (ml-yono)
EtikA keRja MenuJu sUkseS
Bila Anda perhatikan sekitar Anda, banyak orang bekerja, namun hanya segelintir orang yang mampu meraih prestasi dan mendapatkan promosi. Tidak hanya melulu karena kepandaian, tetapi sebagian besar promosi adalah hasil dari kepercayaan dari atasan/perusahaan. Miliki etika kerja yang akan membawa Anda menuju sukses:

1. Menjaga integritas
Integritas pada intinya adalah keutuhan. Tetapi kata ini mencakup arti yang luas, yaitu kejujuran, ketulusan, dapat dipercaya, keutuhan antara tindakan dan perkataan, konsistensi, tanggung jawab, kesetiaan dan disiplin. Integritas adalah apa yang Anda lakukan ketika tidak ada seorangpun yang melihat. Tidak ada cara yang benar untuk melakukan hal yang salah. Kita tidak dapat mengatakan bahwa seseorang mempunyai 75% atau 95% integritas. Hanya ada satu pilihan, apakah ia memiliki integritas atau tidak, tidak ada jalan tengah. Integritas merupakan kunci sukses karena integritas menciptakan kepercayaan, dan kepercayaan meluaskan pengaruh/kepemimpinan Anda. Bagaimana menjaga integritas Anda? Fokuskan kehidupan Anda untuk membangun karakter dan kemurnian hidup, bukan pada sukses dan prestasi.
Ketika kekayaan hilang, tidak ada yang hilang.
Ketika kesehatan hilang, sesuatu telah hilang.
Ketika karakter hilang, semuanya telah hilang.
(Billy Graham)
2. Meraih keunggulan
Lakukan semua dengan keunggulan. Martin Luther King, Jr pernah menulis, “Bila bagian Anda ternyata menjadi penyapu jalanan, sapulah jalanan seperti Michaelangelo melukis, seperti Beethoven membuat musik, seperti Shakespeare menulis puisi. Sapulah jalanan dengan sedemikian baik, sehingga seluruh penghuni surga dan bumi akan terdiam sejenak dan berkata: Ia hidup sebagai penyapu jalanan yang luar biasa, yang melakukan pekerjaannya dengan baik.”
3. Bekerja dengan rajin
Kemalasan bukan hanya berarti duduk-duduk sepanjang hari tanpa melakukan sesuatu, melainkan dapat pula seseorang malas walaupun kelihatannya ia bekerja keras tanpa henti. Kemalasan adalah tidak melakukan sesuatu hal yang perlu dilakukan pada saat hal itu harus dilakukan. Contohnya, seseorang sibuk bekerja pagi hingga malam, tetapi ia tidak mengambil waktu untuk membersihkan kamar yang sudah sangat berantakan. Ada hal yang seharusnya ia kerjakan tetapi tidak dikerjakan. Beberapa tanda kemalasan:
• bila meja/rumah saya berantakan,
• terlambat masuk kerja atau terlambat bertemu orang sesuai dengan waktu yang ditetapkan,
• selalu terburu-buru berangkat kerja, tidak ada waktu untuk makan pagi atau mengantar anak sekolah, tetapi setiba di tempat kerja membuang-buang waktu bermain dengan internet
• bekerja sekedarnya saja, tanpa kesungguhan
Kemalasan merupakan langkah pertama menuju kehancuran.
Allah memberi makanan pada burung-burung di udara,
tetapi Ia tidak pernah melemparkan makanan itu ke sarang mereka.
4. Menjaga keseimbangan
Banyak hal yang perlu kita lakukan sehari-hari: bekerja, mengurus rumah tangga, memberi waktu bagi anak-anak, merawat/membantu orang tua, terlibat dalam organisasi, hingga mengatur investasi, bahkan memperbaiki atap yang bocor. Keseimbangan bukanlah mengikuti sebuah daftar urutan prioritas dengan kaku, melainkan lebih seperti pemain sirkus yang memutar/bermain dengan beberapa bola sekaligus di tangannya. Keseimbangan adalah kemampuan untuk terus mengenali dan bermain/memutar bermacam-macam tugas dan kesempatan dalam hidup. Hal ini perlu latihan dan kemauan. Kita perlu tahu bola apa yang ada di tangan kita saat ini, yang perlu mendapat perhatian khusus, untuk berapa lama. Contohnya, bila anak-anak masih kecil, membutuhkan perhatian lebih banyak dari pada waktu mereka sudah duduk di bangku kuliah. Memang tidak mudah meraih keseimbangan, tetapi kita perlu mengusahakannya. Mintalah hikmat dari Sang Pencipta untuk mengerti masa dan waktu, hal-hal apa yang perlu mendapat perhatian kita di saat-saat tertentu.
5. Mengambil waktu untuk beristirahat
Begitu banyak hal yang perlu dilakukan di sekitar kita, tidak hanya di tempat kerja, tetapi juga di rumah dan dalam kehidupan sosial kita. Rasanya mustahil untuk beristirahat bila kita ingin semua pekerjaan itu beres. Namun, kita juga membutuhkan istirahat. Dibutuhkan iman untuk bisa beristirahat dan tidak kuatir tentang hal-hal yang belum selesai, atau tekanan dari rekan kerja yang tidak pernah beristirahat. Namun banyak manfaat yang kita dapatkan dari beristirahat. Istirahat memberi waktu bagi kita untuk berpikir, merefleksikan diri, fokus pada hubungan kita pada Allah, dan mengalami pembaharuan. Tanpa sabat kita dapat terjebak dalam kedangkalan, sibuk tetapi tanpa pencapaian yang maksimal.
JimmyOentoro.com is proudly powered by Sky Soft Co
Mantingan, Simbol Kabupaten Jepara
MANTINGAN, desa yang terletak sekitar empat kilometer arah selatan pendapa Kabupaten Jepara, mendapat perhatian lebih menjelang peringatan Hari Jadi Ke-456 Jepara yang jatuh pada 10 April ini. Salah satu prosesi peringatan hari jadi, yakni buka
luwur dan pengajian umum yang diadakan di Mantingan.
Buka luwur (mengganti kain penutup) makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin yang terletak di belakang Masjid Mantingan, dilaksanakan 9 April. Malam harinya dilanjutkan dengan pengajian umum, dan 10 April digelar upacara hari jadi.
Penetapan Hari Jadi Jepara, merujuk pada tanggal penobatan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa kawasan pesisir Jepara, 10 April 1549. Putri Sultan Trenggana (Kerajaan Islam Demak) menjadi pemimpin Jepara setelah suaminya, Sultan Hadlirin dibunuh Arya Penangsang. Naik tahtanya sang ratu itu ditetapkan sebagai hari jadi, sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 1988.
Selain masjid dan makam, di Mantingan juga ada peninggalan purbakala, Gapura Mantingan. Gapura yang dibangun 1927 itu semula melintang di jalan yang menghubungkan Mantingan-Sukodono, hingga tembus sampai pasar Ngabul (Kecamatan Tahunan). Pesatnya industri mebel ukir, menjadikan jalan desa itu menjadi jalan raya kabupaten yang juga dilalui kendaraan besar, termasuk truk-truk pengangkut kayu bahan baku industri mebel.
Gapura yang berukuran kecil dirasa menjadi penghambat arus lalu lintas yang semakin padat. Bekerja sama dengan Dinas Purbakala, Pemkab Jepara memindahkan material gapura asli ke lokasi baru, sekitar seratus meter arah timur dari lokasi lama. Tepatnya, menjadi pintu masuk dari arah selatan menuju kompleks makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Di lokasi lama, dibangun duplikat gapura yang berukuran lebih besar.
Pemindahan salah satu cagar budaya Jepara itu sempat menimbulkan polemik. Muncul suara kalangan akademisi dan sejawan yang keberatan atas pemindahan itu. Namun warga tidak mempersoalkannya. Apalagi setelah bagian atas gapura asli runtuh setelah tersenggol truk tronton. Jika dibiarkan lama berdiri di sana, dikhawatirkan ambruk. Suara pemrotes pun sirna.
Keberadaan cagar budaya berupa Masjid Astana Sultan Hadlirin, makam pasangan suami istri penguasa Jepara abad ke-16, dan gapura yang menjadi simbol Jepara, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Mantingan. ''Tidak berlebihan jika Mantingan disebut sebagai simbol Jepara,'' kata Petinggi Mantingan Drs Achmad Slamet dan Carik Mahmudi Hs.
Buktinya, anjungan Kabupaten Jepara di Taman Mini Jateng, dekat kompleks PRPP, pada bagian depannya ada duplikat Gapura Mantingan. Jika menilik kegiatan perekonomian, sebagian besar dari 1.854 keluarga (dengan 9.916 jiwa) menggeluti industri kerajinan mebel ukir.
Desa yang memiliki enam pedukuhan, memiliki fasilitas pendidikan berupa SD, MI, MTs, dan MA. Warga yang mayoritas muslim itu, hampir di setiap pedukuhan memiliki madrasah diniyah dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ).
Keramaian terjadi tak hanya menjelang Hari Jadi Jepara. Setiap 17 Jumadil Awal (penanggalan Hijriyah), di kompleks masjid dan makam itu diadakan haul. Sekitar setengah bulan menjelang puncak acara, sepanjang jalan di sekitar masjid dipadati stan-stan pedagang dari berbagai daerah, mirip suasana dandangan di Kudus.
Kegiatan wisata lokal juga turut menghidupkan suasana Mantingan. Jika melihat catatan jumlah peziarah, berarti tiap hari Mantingan dikunjungan tamu dari luar daerah. ''Jumlah peziarah tidak tentu. Namun tiap bulan mencapai empat ribu orang,'' tutur H Ali Syafi'i, penerima tamu Masjid Mantingan.
Surat-surat Kartini
Surat-surat kartini , Kekaguman pada yang Tak Pernah Dibaca
JUDUL: HABIS Gelap Terbitlah Terang
PENERJEMAH: Armijn Pane
PENERBIT: Balai Pustaka, 1978
TEBAL: 214 halaman
***
HARI Kartini, yang diperingati setiap tanggal 21 April, selalu terekam kenangan tentang bagaimana hari tersebut diperingati. Lomba kebaya dan lagu "Ibu Kita Kartini", demikianlah kenangan itu. Di sekolah-sekolah dasar, sudah merupakan pemandangan tahunan jika peringatan ditandai dengan parade gadis-gadis kecil berkebaya bak potret atau gambar Kartini.
DARI peringatan tahun ke tahun, akhirnya timbul satu pertanyaan: apa yang kebanyakan orang ketahui tentang Kartini? Selain tentang tanggal kelahirannya pada 21 April 1879 di Jepara, bisa dipastikan khalayak juga tahu tentang surat-surat Kartini yang terkumpul dalam sebuah buku dan diberi judul "Habis Gelap Terbitlah Terang". Judul buku kumpulan surat-surat Kartini kepada beberapa sahabatnya di Belanda ini memang sudah amat dikenal orang. Semacam pengetahuan umum yang wajib diketahui.
Namun sayangnya, kepopuleran "Habis Gelap Terbitlah Terang" di negeri ini bukan berarti telah banyak orang yang benar-benar mengetahui isi surat-surat Kartini. Padahal, apa makna peringatan Hari Kartini bisa dipahami semata-mata hanya dengan mengetahui buah- buah pikirannya dalam surat-surat tersebut. Hasil jajak pendapat menguatkan "tuduhan" ini. Sebagian besar responden yang mengetahui atau pernah mendengar tentang buku kumpulan surat Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang", mengaku belum pernah membaca kumpulan surat Kartini. Bahkan ironisnya, hampir separuh responden tersebut menyatakan tidak pernah melihat "wujud" buku tersebut.
KUMPULAN surat Kartini pertama kali diterbitkan dalam sebuah buku berjudul "Door Duisternis Tot Licht" pada tahun 1911. Buku tersebut disusun oleh JH Abendanon, salah seorang sahabat pena Kartini yang saat itu menjabat sebagai menteri (direktur) kebudayaan, agama, dan kerajinan Hindia Belanda. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L Symmers.
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran". Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara. Pada 1938, buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.
Seperti telah diungkap sebelumnya, dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang", Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi.
Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
Pembahasan atau bab pertama berjudul: Dirudung cita- cita, dihambar kasih sayang. Surat-surat Kartini pada bagian ini terutama berisi harapannya untuk memperoleh "pertolongan" dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia ungkapkan juga tentang pandangan: dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." (hlm 45).
Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan "tersedia" untuk dimadu pula. Pada bab awal ini, gugatan-gugatan Kartini ditampilkan untuk menggambarkan kekritisannya sebagai perempuan Jawa.
Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan menyajikan surat-surat Kartini yang isinya banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.
Kartini sangat mencintai sang ayah. Namun ternyata, cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah, dalam surat, juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi-terutama ke Eropa-memang diungkap dalam surat-surat. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Dan ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." (hlm 193). Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Kartini akhirnya menikah dengan bupati Rembang pada tanggal 12 November 1903. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Kartini wafat pada 13 September 1904 setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada surat-surat terakhir kepada suami istri Abendanon, Kartini sudah mengetahui perihal ajal yang hampir tiba. Surat terakhir ditujukan pada Nyonya Abendanon, 7 September 1904. Kartini wafat pada usia 25 tahun. Demikian surat-surat Kartini yang dirangkai oleh Armijn Pane dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang".
BUKU kumpulan surat-surat Kartini, selain diterjemahkan Armijn Pane, kemudian juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan "Door Duisternis Tot Licht" di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap "Door Duisternis Tot Licht" pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya". Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia (hlm v).
Salah satu alasan mengapa Sulastin berkeinginan menerjemahkan secara lengkap "Door Duisternis Tot Licht" adalah karena dipandang semakin lama semakin sedikit orang di negeri ini yang menguasai bahasa Belanda. Dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, surat-surat Kartini akan dapat dibaca oleh banyak orang.
Berbeda dengan "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang oleh Armijn Pane sengaja dibuat lebih ringkas, buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada "Door Duisternis Tot Licht". Selain diterbitkan dalam "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya", terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku "Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya".
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah "Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904". Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam "Door Duisternis Tot Licht" versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong "sensitif" dan tidak ada dalam "Door Duisternis Tot Licht" versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku "Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904" memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
BUKU-buku kumpulan surat Kartini, sampai saat ini masih terus dicetak dan beredar di pasar. Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah "Panggil Aku Kartini Saja" karya Pramoedya Ananta Toer. Buku "Panggil Aku Kartini Saja" terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya. Banyaknya buku yang membicarakan tentang Kartini sampai saat ini menjadi suatu indikasi keistimewaan pribadi dirinya. Namun, selain mengundang decak kagum banyak kalangan di berbagai negeri, surat-surat Kartini juga mengundang gugatan dan perdebatan. Gugatan-gugatan tidak hanya ditujukan pada surat-surat Kartini saja, juga konsistensi pada apa yang ia kritik dan perjuangkan. Kartini dianggap mengkhianati perjuangannya sendiri dengan "menerima" poligami.
Ada kalangan yang meragukan "kebenaran" surat-surat Kartini. Ada dugaan JH Abendanon, menteri (direktur) kebudayaan, agama, dan kerajinan saat itu, merekayasa surat- surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di negara-negara jajahannya, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan. Apalagi, hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Jangankan menemukan surat, menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan JH Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Demikian "hebat"-nya surat-surat yang dibuat Kartini kepada sahabat-sahabat penanya.