Rabu, 09 April 2008

Mantingan, Simbol Kabupaten Jepara

MANTINGAN, desa yang terletak sekitar empat kilometer arah selatan pendapa Kabupaten Jepara, mendapat perhatian lebih menjelang peringatan Hari Jadi Ke-456 Jepara yang jatuh pada 10 April ini. Salah satu prosesi peringatan hari jadi, yakni buka luwur dan pengajian umum yang diadakan di Mantingan.

Buka luwur (mengganti kain penutup) makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin yang terletak di belakang Masjid Mantingan, dilaksanakan 9 April. Malam harinya dilanjutkan dengan pengajian umum, dan 10 April digelar upacara hari jadi.

Penetapan Hari Jadi Jepara, merujuk pada tanggal penobatan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa kawasan pesisir Jepara, 10 April 1549. Putri Sultan Trenggana (Kerajaan Islam Demak) menjadi pemimpin Jepara setelah suaminya, Sultan Hadlirin dibunuh Arya Penangsang. Naik tahtanya sang ratu itu ditetapkan sebagai hari jadi, sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 1988.

Selain masjid dan makam, di Mantingan juga ada peninggalan purbakala, Gapura Mantingan. Gapura yang dibangun 1927 itu semula melintang di jalan yang menghubungkan Mantingan-Sukodono, hingga tembus sampai pasar Ngabul (Kecamatan Tahunan). Pesatnya industri mebel ukir, menjadikan jalan desa itu menjadi jalan raya kabupaten yang juga dilalui kendaraan besar, termasuk truk-truk pengangkut kayu bahan baku industri mebel.

Gapura yang berukuran kecil dirasa menjadi penghambat arus lalu lintas yang semakin padat. Bekerja sama dengan Dinas Purbakala, Pemkab Jepara memindahkan material gapura asli ke lokasi baru, sekitar seratus meter arah timur dari lokasi lama. Tepatnya, menjadi pintu masuk dari arah selatan menuju kompleks makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Di lokasi lama, dibangun duplikat gapura yang berukuran lebih besar.

Pemindahan salah satu cagar budaya Jepara itu sempat menimbulkan polemik. Muncul suara kalangan akademisi dan sejawan yang keberatan atas pemindahan itu. Namun warga tidak mempersoalkannya. Apalagi setelah bagian atas gapura asli runtuh setelah tersenggol truk tronton. Jika dibiarkan lama berdiri di sana, dikhawatirkan ambruk. Suara pemrotes pun sirna.

Keberadaan cagar budaya berupa Masjid Astana Sultan Hadlirin, makam pasangan suami istri penguasa Jepara abad ke-16, dan gapura yang menjadi simbol Jepara, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Mantingan. ''Tidak berlebihan jika Mantingan disebut sebagai simbol Jepara,'' kata Petinggi Mantingan Drs Achmad Slamet dan Carik Mahmudi Hs.

Buktinya, anjungan Kabupaten Jepara di Taman Mini Jateng, dekat kompleks PRPP, pada bagian depannya ada duplikat Gapura Mantingan. Jika menilik kegiatan perekonomian, sebagian besar dari 1.854 keluarga (dengan 9.916 jiwa) menggeluti industri kerajinan mebel ukir.

Desa yang memiliki enam pedukuhan, memiliki fasilitas pendidikan berupa SD, MI, MTs, dan MA. Warga yang mayoritas muslim itu, hampir di setiap pedukuhan memiliki madrasah diniyah dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ).

Keramaian terjadi tak hanya menjelang Hari Jadi Jepara. Setiap 17 Jumadil Awal (penanggalan Hijriyah), di kompleks masjid dan makam itu diadakan haul. Sekitar setengah bulan menjelang puncak acara, sepanjang jalan di sekitar masjid dipadati stan-stan pedagang dari berbagai daerah, mirip suasana dandangan di Kudus.

Kegiatan wisata lokal juga turut menghidupkan suasana Mantingan. Jika melihat catatan jumlah peziarah, berarti tiap hari Mantingan dikunjungan tamu dari luar daerah. ''Jumlah peziarah tidak tentu. Namun tiap bulan mencapai empat ribu orang,'' tutur H Ali Syafi'i, penerima tamu Masjid Mantingan.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda